Kamis, 28 November 2019

PRAKTEK ORGANISASI DAN BUDAYA PERUSAHAAN

ORGANISASI
Pengertian Organisasi Pengertian organisasi adalah kesatuan (entity) sosial yang dikoordinasikan secara sadar, dengan sebuah batasan yang relatif dapat diidentifikasi, yang bekerja atas dasar yang relatif terus menerus untuk mencapai suatu tujuan bersama atau sekelompok tujuan. (Stephen P. Robbins)
Contoh : Perusahaan, Karang Taruna, Majelis Ilmu, Perserikatan Buruh, dll

BUDAYA ORGANISASI
Menurut Susanto, AB. (1997:3) : “Suatu nilai-nilai yang menjadi pedoman sumber daya manusia untuk menghadapi permasalahan eksternal dan penyesuaian integrasi ke dalam perusahaan, sehingga masing-masing anggota  organisasi harus memahami nilai-nilai yang ada dan bagaimana meraka harus bertindak atau berperilaku.”
Budaya perusahaan  menurut Schein, H. (1992:12): Budaya perusahaan sebagai suatu perangkat asumsi dasar akan membantu anggota kelompok dalam memecahkan masalah pokok dalam menghadapi kelangsungan hidup, baik dalam lingkungan eksternal maupun internal, sehingga akan membantu anggota kelompok dalam mencegah ketidakpastian situasi. Pemecahan masalah yang telah ditemukan ini kemudian dialihkan pada generasi berikutnya sehingga akan memiliki kesinambungan.

Garis Besar Budaya 
Budaya adalah Kebiasaan, tradisi, atau sesuatu yang sudah melekat pada suatu kegiatan dan peristiwa.

Jadi Budaya Organisasi Adalah

Budaya Organisasi
Budaya Organisasi adalah Sebuah perkumpulan manusia yang menjalankan tradisi untuk kepentingan visi dan misi.

Menurut Wikipedia, Budaya organisasi adalah sebuah sistem makna bersama yang dianut oleh para anggota yang membedakan suatu organisasi. Dari organisasi-organisasi lainnya.Sistem makna bersama ini adalah sekumpulan karakteristik kunci yang dijunjung tinggi oleh organisasi.

Budaya Organisasi Budaya dibagi menjadi 4  yaitu :

  • Berorientasi pada Pemenuhan Kepuasan Diri 
  • Berorientasi pada Proyek
  • Berorientasi pada Peran
  • Berorientasi pada Kekuasaan
Berorientasi pada pemenuhan kepuasan diri :

  1. Mengutamakan kepuasan para pegawainya
  2. Setiap masalah ditangani dengan cara kekeluargaan. 
  3. Para karyawan diberi kebebasan dalam bekerja asal sesuai target.
  4. Aturan diberlakukan tidak terlalu ketat agar karyawan tidak merasa terkekang. 
  5. Karena faktor emosional sangat berperan, seringkali seseorang dapat promosi karena hubungan baik dan disukai atasan. Jadi kalau mau sukses, tetap pelihara hubungan baik dengan atasan. 
  6. Apa pun bisa terjadi tergantung dari keadaan emosi atasan. Contoh: perusahaan keluarga, perusahaan berskala kecil
Berorientasi pada Proyek :
  1. Profesionalitas adalah segalanya. Kemampuan seseorang lebih penting daripada kelakuan atau penampilan. 
  2. Kerja tim sangat dibutuhkan. 
  3. Hubungan kerja bos
  4. Bawahan dan antarkaryawan hanya sebatas pekerjaan. Jarang terjadi pembicaraan yang bersifat pribadi, apalagi curhat urusan di luar pekerjaan.
  5. Hasil dan target kerja sangat penting sehingga sistem punishment and reward sering digunakan. 
  6. Bekerja sesuai job description sangat dihargai. Membantu pekerjaan orang lain malah dianggap intervensi, kecuali dilibatkan dalam kerja tim. Contoh: perusahaan yang bergerak di bidang penelitian dan pengembangan.
PRAKTEK ETIKA LINTAS BATAS BUDAYA DALAM ORGANISASI

Relativisme etis adalah teori bahwa karena masyarakat yang berbeda memiliki keyakinan etis yang berbeda. Apakah tindakan secara moral benar atau salah, tergantung kepada pandangan masyarakat itu. Dengan kata lain, relativisme moral adalah pandangan bahwa tidak ada standar etis yang secara absolute benar dan yang diterapkan atau harus diterapkan terhadap perusahaan atau orang dari semua masyarakat. Dalam penalaran moral seseorang, dia harus selalu mengikuti standar moral yang berlaku dalam masyarakat manapun dimana dia berada. Pandangan lain dari kritikus relativisme etis yang berpendapat, bahwa ada standar moral tertentu yang harus diterima oleh anggota masyarakat manapun jika masyarakat itu akan terus berlangsung dan jika anggotanya ingin berinteraksi secara efektif. Relativisme etis mengingatkan kita bahwa masyarakat yang berbeda memiliki keyakinan moral yang berbeda, dan kita hendaknya tidak secara sederhana mengabaikan keyakinan moral kebudayaan lain ketika mereka tidak sesuai dengan standar moral kita.
Standar etika berada dalam diri seseorang, bukan organisasi.
Bahkan, organisasi tidak memiliki standar etika hanya anggota mereka para eksekutif, manajer, dan karyawan yang menentukan apakah sebuah perusahaan tertentu akan bertindak secara etis atau tidak, atau bertanggung jawab pada setiap titik waktu tertentu, dan bahkan penentuan ini terletak pada mata pemirsa. Standar etika yang seringkali tidak berbentuk, bertentangan, dan fana, tetapi dampaknya terhadap masyarakat lokal di seluruh dunia bisa mendalam.

Berkaitan ini untuk bisnis global adalah dunia yang sempurna ditandai dengan lingkungan di mana setiap orang bermain dengan aturan yang sama pada tingkat lapangan bermain atau lingkungan di mana semua orang ( atau setidaknya setiap kelompok ) menciptakan aturan sendiri.

Apa arti dari nilai-nilai universal ?
Orang-orang dan budaya berkembang seiring dengan berjalannya waktu dan ruang, seperti halnya keyakinan etis mereka dan nilai-nilai. Hal ini dapat dilihat pada keyakinan yang dianut untuk "menghormati tetangga" atau "melindungi berdaya" yang dapat ditemukan dalam berbagai bentuk tulisan yang tersebar luas 

Apa hubungan antara prinsip-prinsip dan praktek ?
Banyak orang percaya bahwa prinsip-prinsip yang saling bertentangan, yang bertentangan dengan praktek-praktek, adalah akar penyebab kebanyakan konflik. 

Abad kelima sarjana Yunani dan sejarawan Herodotus mengamati : “Jika ada orang yang menetapkan setiap orang di dunia untuk memilih yang terbaik dari semua adat istiadat, setelah pertimbangan yang matang, akan memilih orang-orang mereka, begitu kuat manusia percaya bahwa kebiasaan mereka adalah yang terbaik.” Dia menyarankan masyarakat untuk tidak mengganggu kebiasaan dan praktek-praktek dari orang lain sebagai cara utama untuk menghindari, atau setidaknya meminimalkan konflik. Namun, ketika hal ini tidak mungkin, tindakan yang terbaik adalah fokus pada perjanjian, di mana kesamaan lintas budaya dapat ditemukan. Dengan demikian, daripada menitiberatkan fokus pada praktikyang mungkin ditolak, mungkin manajer harus lebih memperhatikan bagaimana membangun praktek-praktek yang dapat diterima bersama yang didasarkan pada prinsip-prinsip umum

Konflik antara Etika dengan Hukum


Implikasi praktis yang paling utama dari pemisahan antara aspek etika dengan hukum adalah bahwa satu-satunya parameter yang paling dasar dalam perilaku manusia ini (seperti tindak kejahatan terhadap masyarakat) diatur oleh hukum beserta sanksi yang diperlukan, sementara etika seringkali dianggap sebagai peraturan yang dibuat oleh seseorang secara individu atau kelompok dan tidak melibatkan campur tangan pemerintah.

Apa yang harus dilakukan seseorang (termasuk para manajer), apabila ia dihadapkan pada konflik antara hokum atau etika di satu sisi dengan aturan hukum lokal di sisi lain? Ketika semua upaya yang memungkinkan gagal menyelesaikan konflik, penelitian menunjukkan bahwa di sebagian besar budaya, seringkali orang lebih memilih jalur etika dibandingkan hukum. Manusia akan cenderung mengikuti akal sehat mereka sebelum mengikuti aturan hukum.

Pada kasus dimana aturan hukum dan moral saling bertentangan, apabila seseorang mengikuti akal sehat dan moral saja, ia justru menjerumuskan dirinya menuju hukuman secara legal. Meskipun demikian, sebagian besar budaya di dunia justru lebih menekankan pada pentingnya melakukan tindakan yang benar di atas tindakan hukum.

Oleh karena itu, masyarakat lebih khawatir apabila yang dipertaruhkan adalam hukum negara asalnya dibandingkan hukum negara lain. Misalnya, pebisnis yang bepergian ke Iran akan cenderung berbohong kepada pihak yang berwenang di Iran mengenai pernah atau tidaknya ia mengunjungi Israel, karena hal ini secara otomatis akan menghambat mereka memasuki Iran.